Cerita Inspirasi

Nama   : Cempaka Mayang Nastiti

NRP    : G44100111

Laskar : 28

Cerita pertama ini mungkin telah popular, diketahui khalayak umum. Cerita ini bukan tentang saya atau orang yang saya kenal, tapi cerita ini sangat menginspirasi saya sebagai seorang wanita.

Alkisah Fatimah binti Muhammad bertanya pada sang ayah,

“Ayahanda, siapakah wanita yang pertama-tama melangkahkan kakinya ke pintu surga?”

“Dia adalah Mutiah, wanita yang tinggal di ujun jalan situ,” jawab Rasul seraya menunjuk sebuah jalan.

Fatimah sangat penasaran dengan Mutiah, akhlak mulia apakah yang dilakukan wanita tersebut? Keesokannya setelah meminta izin suaminya, Ali bin Abi Thalib, Fatimah pergi menemui wanita tersebut. Hasan anaknya pun dibawanya serta. Ketika sampai di muka pintu rumah wanita tersebut Fatimah mengucapkan salam,

“Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…siapa itu?” jawab sebuah suara dari dalam rumah.

“Aku Fatimah binti Muhammad,”

“Alhamdulillah…putri Baginda Rasul sudi mengunjungi gubukku ini, sendiri Fatimah?” jawab suara itu lagi dengan bahagia.

“Aku bersama putraku Hasan,”

“Ohh…maaf sekali Fatimah, aku tidak dapat menemuimu, aku belum meminta izin suamiku untuk bertemu laki-laki…” suara itu terdengar kecewa.

“Tapi Hasan masih kecil,”

“Tapi ia seorang laki-laki…maafkan aku Fatimah, datanglah lagi esok, aku akan meminta izin suamiku terlebih dulu”

Akhirnya Fatimah pulang, ia datang lagi keesokan harinya dengan membawa Hasan dan Husein. Tapi lagi-lagi ia gagal menemui wanita itu karena Mutiah belum meminta izin suaminya untuk bertemu Husein juga. Keesokannya lagi barulah Fatimah berhasil mengunjungi Mutiah. Ia mendapati rumah Mutiah amat sederhana. Ketika ia berkunjung Mutiah tengah menyiapkan makan untuk suaminya. Setelah siap masakannya, Mutiah meletakkan cambuk di atas meja makan.

“Untuk apa cambuk itu wahai Mutiah?”

“Saat suamiku makan, aku akan bertanya apakah masakanku cocok dengannya atau tidak, jika tidak aku akan menyerahkan cambuk itu dan memintanya untuk mencambukku…”

“Mengapa suamimu melakukan itu?”

“Tidak, suamiku adalah orang yang pengasih, akulah yang memintanya untuk berbuat demikian agar aku tidak pernah lalai sebagai istrinya untuk menyenangkan hati suami” jawab Mutiah sembari tersenyum.

Sepulang dari kunjungan itu mengertilah Fatimah akhlak mulia apa yang mengantarkan wanita tersebut ke pintu surga.

Dari cerita itu sungguh saya terinspirasi untuk menjadi wanita shalihah yang dengan ikhlas sepenuh hati menjadi seorang istri yang baik yang derajatnya sungguh mulia di akhirat nanti.

*

Cerita yang kedua adalah pengalaman saya pribadi. Cerita ini sebetulnya sederhana, tapi telah betul-betul menanamkan pada diri saya sendiri sifat untuk tidak pernah putus asa dan yakin pada diri sendiri.

Saat masih di bangku SMA saya dipercaya untuk mengikuti LKBB dengan posisi protokoler. Saya yang biasanya berbaris sempat tidak percaya diri saat diserahi tanggung jawab tersebut. Walaupun saya pribadi sejak dulu memang ingin menjadi protokoler saya sempat takut tidak akan berhasil. Dengan tekanan tanggung jawab dan dukungan dari teman-teman saya, saya terus berusaha sebaik-baiknya menjalankan tugas saya tersebut. Jika dihitung-hitung, waktu berlatih saya dengan didampingi orang lain yang berpengalaman sedikit sekali. Selebihnya saya hanya bisa berlatih sendiri.

Menahan malu ketika berlatih di rumah karena digoda keluarga saya, menghafal teks sepanjang perjalanan di angkot setiap hari, merekam suara saya sendiri dan terus-terusan merasa suara saya jelek. Hal-hal seperti it uterus saya jalani dalam waktu kurang lebih seminggu. Waktu yang cukup singkat, apalagi saya hanya bisa berlatih display dua hari saja.

Ketika sampai di hari pelaksanaan saya sudah merasa cukup mantap walau masih takut. Tapi ketika saya sampai di lokasi lomba, entah bagaimana saya jadi merasa sangat yakin pada diri saya. Ketika berlatih, tidak pernah sekali pun saya berhasil mengucapkan teks dengan sempurna. Tapi pada hari lomba saya berhasil melakukannya.

Seusai lomba komentar mengenai penampilan saya beragam. Ada yang bilang standar, bagus, biasa saja. Tapi entah kenapa saya yakin saya akan jadi MC Terbaik. Dan saat pengumuman pun tiba. Dan almamater saya siumumkan menyabet juara MC Terbaik. Banyak teman saya yang tidak percaya, tapi saya yakin saya memang akan mendapatkannya.

Dari pengalaman itu, saya yakin apa pun dapat terjadi selama kita terus berusaha dan percaya terhadap bahwa apa yang kita harapkan akan terjadi.

Comments